Keterbatasan dan Kritikan

Hari pertama menjabat sebagai Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam IAIN Datuk Laksemena Bengkalis, saya duduk sendirian di ruang kerja yang dulunya kursi yang saya duduiki ini diduduki Ketua Jurusan DKI. Tidak ada rasa bangga yang berlebihan —yang ada justru kesadaran akan betapa banyak keterbatasan yang harus dihadapi. Wakil Dekan hanya satu orang, dialah kawanku yang hebat, namanya Dr Khoiri MH, namun pekerjaan yang menanti kami serasa tak terhitung jumlahnya. Anggaran pun masih terpusat di institusi, membuat setiap rencana harus dipikirkan matang sebelum benar-benar bisa dijalankan.

Namun di situlah pelajaran pertama saya mulai. Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti, melainkan ruang untuk berkreasi. Ketika sumber dana dan sumber daya terbatas, kreativitas menjadi modal utama. Saya belajar mencari celah, memanfaatkan apa yang ada, dan tidak menunggu semuanya sempurna sebelum bergerak. Kekurangan itu indah.

Ada masanya saya merasa ragu —apakah langkah yang saya ambil sudah tepat? Tapi keberanian mengajarkan saya untuk tetap melangkah meski tanpa kepastian penuh. Dan ketika langkah itu belum juga membuahkan hasil secepat yang diharapkan, kesabaran menjadi penjaga agar semangat tidak padam. Saya berpegang pada satu prinsip sederhana: jangan pernah putus asa, sebab setiap yang ditanam membutuhkan waktu proses untuk tumbuh.

Saya harus banyak belajar dari atasan, dan rekan. Belajar dari pengalaman, dari kesalahan, dari orang-orang di sekitar saya. Saya juga banyak berkawan, karena saya sadar tidak mungkin membangun fakultas ini seorang diri. Kolega, dosen, tenaga kependidikan, bahkan mahasiswa, semuanya menjadi bagian dari perjalanan ini. Saya belajar untuk banyak mendengarkan sebelum bertindak, karena setiap masukan menyimpan kebijaksanaan yang mungkin belum saya pikirkan sendiri.

Salah satu hal yang paling saya syukuri dari perjalanan itu adalah keberanian untuk menerima kritik. Tidak semua kritik terasa nyaman didengar, dan tidak jarang ada yang datang dengan nada tajam. Tetapi saya belajar memandangnya bukan sebagai serangan, melainkan sebagai cermin—bagian penting dari usaha memperbaiki proses jalannya kepemimpinan di tingkat fakultas. Setiap kritik yang saya terima, saya coba renungkan: apa yang bisa diperbaiki dari sana? Karena kepemimpinan yang sehat bukanlah kepemimpinan yang anti-kritik, melainkan kepemimpinan yang terus berbenah karena kritik itu sendiri.

Dan pada akhirnya, semua bermuara pada satu hal: banyak berbuat. Bukan sekadar berwacana atau menunggu keadaan ideal, tetapi bergerak dengan apa yang ada. Semua yang kami capai saat ini merupakan rintisan para pendahulu sebelum saya, hasil rintisan dan dibangun perlahan, dengan tangan ikhas tak pernah berhenti bekerja, dan telinga yang tetap terbuka untuk mendengar apa yang perlu diperbaiki.

Di sepanjang jalan itu, saya belajar bahwa memimpin bukan hanya soal memotivasi orang lain, tapi juga soal menerima motivasi dari mereka—termasuk motivasi yang datang dalam bentuk kritik yang membangun. Sebab dalam keterbatasan yang sama-sama kita rasakan, semangat yang saling menguatkan dan kejujuran yang saling mengoreksi itulah yang akhirnya membawa fakultas ini melangkah, sedikit demi sedikit, menuju arah yang lebih baik.***

Share your love

Newsletter Updates

Enter your email address below and subscribe to our newsletter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *